Asy-Syaikh Bin Baaz Mengajari Cara Menghafal Al-Qur`an

Asy-Syaikh Bin Baaz Mengajari Cara Menghafal Al-Qur`an
Tanya:
       Mohon berikan petunjuk kepadaku mengenai metode yang bisa membantuku dalam menghafal kitabullah.
Jawab:
       Kami menganjurkan kamu agar mencurahkan perhatian dalam menghafal (Al-Qur`an) dan fokus terhadapnya. Hendaknya kamu memilih waktu-waktu yang ‘pas’ untuk menghafal, misalnya: Akhir malam, atau setelah shalat subuh, atau di pertengahan malam, atau waktu lainnya dimana pada waktu itu kamu sedang santai agar kamu bisa menghafal dengan baik. Kami juga menganjurkan kamu agar bisa memilih teman yang baik, yang bisa membantumu dalam menghafal dan meroja’ah (mengulangi hafalan). Tentunya sambil senantiasa meminta taufiq dan bantuan kepada Allah. Memohon kepadanya dengan merendahkan diri, semoga Dia berkenan untuk menolongmu, memberikan taufiq kepadamu, dan selalu menjagamu dari semua hal yang bisa menghalangimu (dari menghafal Al-Qur`an). Karena siapa saja yang jujur meminta bantuan kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan bantuan kepadanya dan memudahkan semua urusannya.
[Dijawab oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah dalam majalah Al-Buhuts edisi 38/133]

BENTUK BAHAN AJAR DAN CAKUPAN BAHAN AJAR DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB



BENTUK BAHAN AJAR DAN CAKUPAN BAHAN AJAR
DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

  1. Pendahuluan
    Dalam peroses pembelajaran bahasa arab tentu seorang guru membutuhkan bahan ajar khusus yang digunakan untuk mengajar muridnya, baik dalam bentuk kitab, media, brosur, atau bahan-bahan lain yang berkaitan dengan bahan ajar tersebut.
Karena bahan ajar adalah substansi yang akan disampaikan dalam peroses belajar mengajar.1Menurut Pannen (1995) Bahan ajar adalah bahan atau materi pelajaran yang disusun secara sisitematis, yang digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran.2 Untuk mengingat pentingnya pembahasan ini maka makalah ini akan memperkenalkan atau membahas tentang bentuk bahan ajar dan cakupan bahan ajar dalam pembelajaran bahasa arab.

  1. Bentuk-Bentuk Bahan Ajar Bahasa Arab
         Bentuk bahan ajar bahasa arab itu tidak jauh berbeda dengan bentuk-bentuk bahan ajar pada umumnya. Menurut Mulyasa (2006),bentuk-bentuk bahan ajar atau materi pembelajaran,antara lain:
  1. Bentuk bahan ajar tercetak, Contoh: hand out, buku, modul, brosur, dan leaflet.
  1. Hand out adalah pernyataan yang telah disiapkan oleh pembicara.
  2. Buku adalah bahan tertulis yang menyajikan ilmu pengetahuan buah pikiran dari pengarangnya.
  3. Modul adalah sebuah buku yang ditulis dengan tujuan agar peserta didik dapat belajar secara mandiri tanpa dengan bimbingan guru.
  4. Brosur adalah bahan informasi tertulis mengenai suatu masalah yang disusun secara bersistem atau cetakan yang hanya terdiri atas beberapa halaman dan dilipat tanpa dijilid atau selebaran cetakan yang berisi keterangan singkat tetapi lengkap.
  5. Leaflet adalah bahan cetak tertulis berupa lembaran yang dilipat tapi tidak dimatikan/dijahit.
  1. Bentuk bahan ajar non cetak
  1. Audio Visual, Contoh: video/film,Video Compact Disc (VCD)
  2. Audio, Contoh: radio, kaset, Compact Disc (CD) audio, piringan hitam
  3. Visual, Contoh: foto, gambar, model/maket.
  4. Multi Media, Contoh: CD interaktif, Computer Based, Internet3
  1. Bentuk bahan ajar yang berbentuk fasilitas, Contoh: perpustakaan, ruang belajar, studio, lapangan olah raga.
  2. Bentuk bahan ajar berupa kegiatan, Contoh: wawancara, kerja kelompok, observai, simulasi, permainan.
  3. Bentuk bahan ajar berupa lingkungan masyarakat, Contoh: Teman, terminal pasar, toko, pabrik, museum.4

  1. Cakupan Bahan Ajar Dalam Pembelajaran Bahasa Arab
            Masalah cakupan bahan ajar atau ruang lingkup, kedalaman, dan urutan penyampaian materi pembelajaranbahasa arab penting diperhatikan.
Karena ketepatan dalam menentukan cakupan bahan ajar atau ruang lingkup, kedalaman dan urutan penyampaian, akan menghindarkan guru dari mengajarkan terlalu sedikit atau terlalu banyak, terlalu dangkal atau terlalu mendalam.Dan ketepatan urutan penyajian akan memudahkan bagi siswa mempelajari materi pembelajaran bahasa arab.
  1. Penentuan cakupan bahan ajar pembelajaran bahasa arab
Dalam menentukan cakupan atau ruang lingkup materi pembelajaran bahsa arab harus diperhatikan, sebab nantinya jika cakupan tersebut sudah dibawa ke kelas maka masing-masing jenis materi tersebut memerlukan strategi dan media pembelajaran yang berbeda-beda.
Cakupan atau ruang lingkup materi perlu ditentukan untuk mengetahui apakah materi yang harus dipelajari oleh murid terlalu banyak, terlalu sedikit, atau telah memadai sehingga sesuai dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai5.
Misalkan mata pelajaran bahasa arab.Salah satu kompetensi dasar yang diharapkan dimiliki siswa, “Membuat jumlah MubtadadanKhabar”.Setelah diidentifikasi, ternyata materi pembelajaran untuk mencapai kemampuan Membuat jumlah Mubtada dan Khabartersebut termasuk jenis prosedur. Jika kita analisis, secara garis besar cakupan materi yang harus dipelajari siswa agar mampu membuat Jumlah Mubtadadan Khabaradalah:Cara pembuatan jumlah Mubtadadan Khabar,Pengetikan susunan kalimat jumlah Mubtadadan Khabar,Pemberian harokat akhir jumlah Mubtadadan Khabar, Cara pengucapannya. Dan setiap jenis dari keempat materi tersebut masih dapat diperinci lebih lanjut.
  1. Penentuan urutan bahan ajar pembelajaran bahasa arab
Urutan penyajianbahan ajar sangat penting untuk menentukan urutan peroses mempelajari atau mengajarkanbahasa arab.Tanpa urutan yang tepat, jika di antara beberapa materi pembelajaran mempunyai hubungan yang bersifat prasyarat akan menyulitkan guru atau siswa dalam mempelajarinya.
Misalnya urutan susunan bahan materi dalam pembelajaran bahasa arab: Makna Kaliamat, Pembagian Kalimat, Al-ismu Al-mabni/Al-mu’rob, MubtadaKhabar, dan Seterusnya. Siswa akan mengalami kesulitan mempelajari MubtadaKhabar jika materi Pembagian Kaliamat belum dipelajariatau diajarkan.
Materi pembelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta kedalamannya dapat diurutkan melalui dua pendekatan pokok , yaitu:
  1. Pendekatan prosedural.
        Urutan materi pembelajaran secara prosedural menggambarkan langkah-langkah secara urut sesuai dengan langkah-langkah melaksanakan suatu tugas. Misalnya langkah-langkah mempelajari bahasa arab, langkah-langkah memperdalam pemahaman bahasa arab, dll.
  1. Pendekatan hierarkis
    Urutan materi pembelajaran secara hierarkis menggambarkan urutan yang bersifat berjenjang dari bawah ke atas atau dari atas ke bawah. Materi sebelumnya harus dipelajari dahulu sebagai prasyarat untuk mempelajari materi berikutnya.6
Contoh : Urutan Hierarkis (berjenjang)
Misalkan tentang I’rob jumlah mufidah (fi’il, fa’il, maful bih) dalam bahasa arab Agar siswa mampu mengi’rob jumlah tersebut dengan benar sesuai dengan koidah nahwu (penerapan rumus/dalil), siswa terlebih dahulu harus mempelajari konsep/pengertian jumlah mufidah, I’rob,fi’il, fa’il, maful bih,(penguasaan konsep). Setelah itu siswa perlu mempelajari rumus/dalil jumlah mufidah, I’rob, fi’il, fa’il, maful bih (penguasaan dalil). Selanjutnya siswa menerapkan dalil atau prinsip jumlah mufidah I’rob, fi’il, fa’il, maful bih (penguasaan penerapan dalil).

  1. Penutup
Bentuk bahan ajar dan cakupan bahan ajar dalam pembelajaran bahasa arab merupakan salah satu komponen yang sangat penting untuk diketahui seorang guru dalam peroses pengajaran, karena bentuk dan cakupan bahan ajar adalah inti yang akan disampaikan seorang guru dalam peroses belajar mengajar. Jadi apabila peroses sistem pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan setandar kompetensi dan dibarengi memperhatikan bentuk dan cakupan bahan ajar dalam pembela jaran , maka akan mendapatkan hasil pembelajaran yang maksimal. Wallahu’lam.


                                                            Daftar Pustaka
Fathurrohman , Pupuh dan Sobry Sutekno. Strategi Belajar Mengajar.Bandung: PT. Refika Aditama, 2007.
Hamim, Nur,dkk.Bahan Ajar Pendidikan dan Latihan Perofesi Guru Sertifikasi Guru/ Pengawasan jabatan kota 2011.Surabaya: Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, 2011.
Taufiq.“Pengertian dan Pentingnya Bahan Ajar, dalam http://www.taufiqslow.com/2012/02/pengertian- dan-pentingnya-bahan- ajar.html.
Sulton,Saddam, dkk."Bentuk dan Jenis Bahan Ajar KriteriaDan Cara Pemilihan Bahan Ajar”, dalam http://anakpba-blogspot com/2012/03/bentuk-dan-jenis-bahan-ajar-kriteria.html.
Anonim.Penentuan Cakupan dan Urutan Bahan Ajar”, dalamhttp://mgmpips.wordpress.com/2007/ 03 /23/ penentuan-cakupan-dan-urutan-bahan-ajar/.


1 Pupuh Fathurrohman Dan Sobry Sutekno, Strategi Belajar Mengajar (Bandung: PT. Refika Aditama, 2007), 47.

2 Taufiq, “Pengertian Dan Pentingnya Bahan Ajar”, dalam http://www.taufiqslow.com/2012/02/pengertian-dan-pentingnya-bahan- ajar.html ( 25 oktober 2013).

3 Saddam sulton, dkk, "Bentuk dan Jenis Bahan Ajar Kriteria dan Cara Pemilihan Bahan Ajar”, dalam http://anakpba-blogspot com/2012/03/bentuk-dan-jenis-bahan-ajar-kriteria.html ( 31 Oktober 2013)

4 Nur Hamim, dkk, Bahan Ajar Pendidikan Dan Latihan Perofesi Guru Sertifikasi Guru/ Pengawasan jabatan kota 2011 (Surabaya: Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, 2011), 79.

5 Anonim,” Penentuan Cakupan dan Urutan Bahan Ajar”, dalam http://mgmpips.wordpress.com/2007/ 03 /23/ penentuan-cakupan-dan-urutan-bahan-ajar/ (25 oktober 2013).


6 Ibid.

Akidah Ahlussunnah Wal jamaah

PENGERTIAN ‘AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH


Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas



A. Definisi ‘Aqidah
‘Aqidah (اَلْعَقِيْدَةُ) menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari kata al-‘aqdu (الْعَقْدُ) yang berarti ikatan, at-tautsiiqu(التَّوْثِيْقُ) yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu (اْلإِحْكَامُ) yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah (الرَّبْطُ بِقُوَّةٍ) yang berarti mengikat dengan kuat.[1]

Sedangkan menurut istilah (terminologi): ‘aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.

Jadi, ‘Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid[2] dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang Prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur-an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih.[3]

B. Objek Kajian Ilmu ‘Aqidah[4]
‘Aqidah jika dilihat dari sudut pandang sebagai ilmu -sesuai konsep Ahlus Sunnah wal Jama’ah- meliputi topik-topik: Tauhid, Iman, Islam, masalah ghaibiyyaat (hal-hal ghaib), kenabian, takdir, berita-berita (tentang hal-hal yang telah lalu dan yang akan datang), dasar-dasar hukum yang qath’i (pasti), seluruh dasar-dasar agama dan keyakinan, termasuk pula sanggahan terhadap ahlul ahwa’ wal bida’ (pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah), semua aliran dan sekte yang menyempal lagi menyesatkan serta sikap terhadap mereka.

Disiplin ilmu ‘aqidah ini mempunyai nama lain yang sepadan dengannya, dan nama-nama tersebut berbeda antara Ahlus Sunnah dengan firqah-firqah (golongan-golongan) lainnya.

• Penamaan ‘Aqidah Menurut Ahlus Sunnah:
Di antara nama-nama ‘aqidah menurut ulama Ahlus Sunnah adalah:

1. Al-Iman
‘Aqidah disebut juga dengan al-Iman sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena ‘aqidah membahas rukun iman yang enam dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Sebagaimana penyebutan al-Iman dalam sebuah hadits yang masyhur disebut dengan hadits Jibril Alaihissallam. Dan para ulama Ahlus Sunnah sering menyebut istilah ‘aqidah dengan al-Iman dalam kitab-kitab mereka.[5]

2. ‘Aqidah (I’tiqaad dan ‘Aqaa-id)
Para ulama Ahlus Sunnah sering menyebut ilmu ‘aqidah dengan istilah ‘Aqidah Salaf: ‘Aqidah Ahlul Atsar dan al-I’tiqaad di dalam kitab-kitab mereka.[6]

3. Tauhid
‘Aqidah dinamakan dengan Tauhid karena pembahasannya berkisar seputar Tauhid atau pengesaan kepada Allah di dalam Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ wa Shifat. Jadi, Tauhid merupakan kajian ilmu ‘aqidah yang paling mulia dan merupakan tujuan utamanya. Oleh karena itulah ilmu ini disebut dengan ilmu Tauhid secara umum menurut ulama Salaf.[7]

4. As-Sunnah
As-Sunnah artinya jalan. ‘Aqidah Salaf disebut As-Sunnah karena para penganutnya mengikuti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat Radhiyallahu anhum di dalam masalah ‘aqidah. Dan istilah ini merupakan istilah masyhur (populer) pada tiga generasi pertama.[8]

5. Ushuluddin dan Ushuluddiyanah
Ushul artinya rukun-rukun Iman, rukun-rukun Islam dan masalah-masalah yang qath’i serta hal-hal yang telah menjadi kesepakatan para ulama.[9]

6. Al-Fiqhul Akbar
Ini adalah nama lain Ushuluddin dan kebalikan dari al-Fiqhul Ashghar, yaitu kumpulan hukum-hukum ijtihadi.[10]

7. Asy-Syari’ah
Maksudnya adalah segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya berupa jalan-jalan petunjuk, terutama dan yang paling pokok adalah Ushuluddin (masalah-masalah ‘aqidah).[11]

Itulah beberapa nama lain dari ilmu ‘Aqidah yang paling terkenal, dan adakalanya kelompok selain Ahlus Sunnah menamakan ‘aqidah mereka dengan nama-nama yang dipakai oleh Ahlus Sunnah, seperti sebagian aliran Asyaa’irah (Asy’ariyyah), terutama para ahli hadits dari kalangan mereka.

• Penamaan ‘Aqidah Menurut Firqah (Sekte) Lain:
Ada beberapa istilah lain yang dipakai oleh firqah (sekte) selain Ahlus Sunnah sebagai nama dari ilmu ‘aqidah, dan yang paling terkenal di antaranya adalah:

1. Ilmu Kalam
Penamaan ini dikenal di seluruh kalangan aliran teologis mu-takallimin (pengagung ilmu kalam), seperti aliran Mu’tazilah, Asyaa’irah[12] dan kelompok yang sejalan dengan mereka. Nama ini tidak boleh dipakai, karena ilmu Kalam itu sendiri merupa-kan suatu hal yang baru lagi diada-adakan dan mempunyai prinsip taqawwul (mengatakan sesuatu) atas Nama Allah dengan tidak dilandasi ilmu.

Dan larangan tidak bolehnya nama tersebut dipakai karena bertentangan dengan metodologi ulama Salaf dalam menetapkan masalah-masalah ‘aqidah.

2. Filsafat
Istilah ini dipakai oleh para filosof dan orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam ‘aqidah, karena dasar filsafat itu adalah khayalan, rasionalitas, fiktif dan pandangan-pandangan khurafat tentang hal-hal yang ghaib.

3. Tashawwuf
Istilah ini dipakai oleh sebagian kaum Shufi, filosof, orientalis serta orang-orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam ‘aqidah, karena merupakan pe-namaan yang baru lagi diada-adakan. Di dalamnya terkandung igauan kaum Shufi, klaim-klaim dan pengakuan-pengakuan khurafat mereka yang dijadikan sebagai rujukan dalam ‘aqidah.

Penamaan Tashawwuf dan Shufi tidak dikenal pada awal Islam. Penamaan ini terkenal (ada) setelah itu atau masuk ke dalam Islam dari ajaran agama dan keyakinan selain Islam.

Dr. Shabir Tha’imah memberi komentar dalam kitabnya, ash-Shuufiyyah Mu’taqadan wa Maslakan: “Jelas bahwa Tashawwuf dipengaruhi oleh kehidupan para pendeta Nasrani, mereka suka memakai pakaian dari bulu domba dan berdiam di biara-biara, dan ini banyak sekali. Islam memutuskan kebiasaan ini ketika ia membebaskan setiap negeri dengan tauhid. Islam memberikan pengaruh yang baik terhadap kehidupan dan memperbaiki tata cara ibadah yang salah dari orang-orang sebelum Islam.”[13]

Syaikh Dr. Ihsan Ilahi Zhahir (wafat th. 1407 H) rahimahullah berkata di dalam bukunya at-Tashawwuful-Mansya’ wal Mashaadir: “Apabila kita memperhatikan dengan teliti tentang ajaran Shufi yang pertama dan terakhir (belakangan) serta pendapat-pendapat yang dinukil dan diakui oleh mereka di dalam kitab-kitab Shufi baik yang lama maupun yang baru, maka kita akan melihat dengan jelas perbedaan yang jauh antara Shufi dengan ajaran Al-Qur-an dan As-Sunnah. Begitu juga kita tidak pernah melihat adanya bibit-bibit Shufi di dalam perjalanan hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat beliau Radhiyallahu anhum, yang mereka adalah (sebaik-baik) pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari para hamba-Nya (setelah para Nabi dan Rasul). Sebaliknya, kita bisa melihat bahwa ajaran Tashawwuf diambil dari para pendeta Kristen, Brahmana, Hindu, Yahudi, serta ke-zuhudan Budha, konsep asy-Syu’ubi di Iran yang merupakan Majusi di periode awal kaum Shufi, Ghanusiyah, Yunani, dan pemikiran Neo-Platonisme, yang dilakukan oleh orang-orang Shufi belakangan.”[14]

Syaikh ‘Abdurrahman al-Wakil rahimahullah berkata di dalam kitabnya, Mashra’ut Tashawwuf: “Sesungguhnya Tashawwuf itu adalah tipuan (makar) paling hina dan tercela. Syaithan telah membuat hamba Allah tertipu dengannya dan memerangi Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya Tashawwuf adalah (sebagai) kedok Majusi agar ia terlihat sebagai seorang yang ahli ibadah, bahkan juga kedok semua musuh agama Islam ini. Bila diteliti lebih mendalam, akan ditemui bahwa di dalam ajaran Shufi terdapat ajaran Brahmanisme, Budhisme, Zoroasterisme, Platoisme, Yahudi, Nasrani dan Paganisme.”[15]

4. Ilaahiyyat (Teologi)
Illahiyat adalah kajian ‘aqidah dengan metodologi filsafat. Ini adalah nama yang dipakai oleh mutakallimin, para filosof, para orientalis dan para pengikutnya. Ini juga merupakan penamaan yang salah sehingga nama ini tidak boleh dipakai, karena yang mereka maksud adalah filsafatnya kaum filosof dan penjelasan-penjelasan kaum mutakallimin tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala menurut persepsi mereka.

5. Kekuatan di Balik Alam Metafisik
Sebutan ini dipakai oleh para filosof dan para penulis Barat serta orang-orang yang sejalan dengan mereka. Nama ini tidak boleh dipakai, karena hanya berdasar pada pemikiran manusia semata dan bertentangan dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah.

Banyak orang yang menamakan apa yang mereka yakini dan prinsip-prinsip atau pemikiran yang mereka anut sebagai keyakinan sekalipun hal itu palsu (bathil) atau tidak mempunyai dasar (dalil) ‘aqli maupun naqli. Sesungguhnya ‘aqidah yang mempunyai pengertian yang benar yaitu ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang bersumber dari Al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih serta Ijma’ Salafush Shalih.

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. Lisaanul ‘Arab (IX/311: عقد) karya Ibnu Manzhur (wafat th. 711 H) t dan Mu’jamul Wasiith (II/614: عقد).
[2]. Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma’ wa Shifat Allah.
[3]. Lihat Buhuuts fii ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 11-12) oleh Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim al-‘Aql, cet. II/ Daarul ‘Ashimah/ th. 1419 H, ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 13-14) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd dan Mujmal Ushuul Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah fil ‘Aqiidah oleh Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim al-‘Aql.
[4]. Lihat Buhuuts fii ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 12-14).
[5]. Seperti Kitaabul Iimaan karya Imam Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam (wafat th. 224 H), Kitaabul Iimaan karya al-Hafizh Abu Bakar ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah (wafat th. 235 H), al-Imaan karya Ibnu Mandah (wafat th. 359 H) dan Kitabul Iman karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H), رحمهم الله .
[6]. Seperti ‘Aqiidatus Salaf Ash-haabil Hadiits karya ash-Shabuni (wafat th. 449 H), Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 5-6) oleh Imam al-Lalika-i (wafat th. 418 H) dan al-I’tiqaad oleh Imam al-Baihaqi (wafat th. 458 H), رحمهم الله.
[7]. Seperti Kitaabut Tauhiid dalam Shahiihul Bukhari karya Imam al-Bukhari (wafat th. 256 H), Kitaabut Tauhiid wa Itsbaat Shifaatir Rabb karya Ibnu Khuzaimah (wafat th. 311 H), Kitaab I’tiqaadit Tauhiid oleh Abu ‘Abdillah Muhammad bin Khafif (wafat th. 371 H), Kitaabut Tauhiid oleh Ibnu Mandah (wafat th. 359 H) dan Kitaabut Tauhiid oleh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab (wafat th. 1206 H), رحمهم الله.
[8]. Seperti kitab as-Sunnah karya Imam Ahmad bin Hanbal (wafat th. 241 H), as-Sunnah karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (wafat th. 290 H), as-Sunnah karya al-Khallal (wafat th. 311 H) dan Syarhus Sunnah karya Imam al-Barba-hari (wafat th. 329 H), رحمهم الله.
[9]. Seperti kitab Ushuuluddin karya al-Baghdadi (wafat th. 429 H), asy-Syarh wal Ibaanah ‘an Ushuuliddiyaanah karya Ibnu Baththah al-Ukbari (wafat th. 387 H) dan al-Ibaanah ‘an Ushuuliddiyaanah karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari (wafat th. 324 H), رحمهم الله.
[10]. Seperti kitab al-Fiqhul Akbar karya Imam Abu Hanifah rahimahullah (wafat th. 150).
[11]. Seperti kitab asy-Syarii’ah oleh al-Ajurri (wafat th. 360 H) dan al-Ibaanah ‘an Syarii’atil Firqah an-Naajiyah karya Ibnu Baththah.
[12]. Seperti Syarhul Maqaashid fii ‘Ilmil Kalaam karya at-Taftazani (wafat th. 791 H).
[13]. Ash-Shuufiyyah Mu’taqadan wa Maslakan (hal. 17), dikutip dari Haqiiqatuth Tashawwuf karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah al-Fauzan (hal. 18-19).
[14]. At-Tashawwuf al-Mansya’ wal Mashaadir (hal. 50), cet. I/ Idaarah Turjumanis Sunnah, Lahore-Pakistan, th. 1406 H.
[15]. Mashra’ut Tashawwuf (hal. 10), cet. I/ Riyaasah Idaaratil Buhuuts al-‘Ilmiyyah wal Iftaa’, th. 1414 H.
 

Penghalang-Penghalang Hidayah



Penghalang-penghalang hidayah

A.      Al kibr(Takabbur, sombong, angkuh) Allah Subhanahu wata’ala berfirman : QS : Al A’raf : 146

سَأَصْرِفُ عَنْ ءَايَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ ءَايَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ(146)

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat (Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya”.

Hadits Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam :
Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya Al kibr walaupuh sebesar dzarrah (biji sawi)

Al kibr : Menolak kebenaran dan meremehkan manusia
Bentuknya :
-          Menolak atau tidak menerima  berita-berita dari Allah SWT (Al Qur’an dan Sunnah SAW) yang tidak sesuai akal dan       perasaanya nya
-          Menolak melaksanakan ajaran islam yang bertentangan dengan nafsunya
-          Tidak mau menerima takdir Allah SWT (Musibah)
`
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا(36)
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.
Penyebabnya :Karena tidak faham akan       ma’na tauhid khususnya Tauhid Rububiayah contoh Al ‘Aliim (Allah Maha mengetahui) Al Hakiim (Maha bijaksana) Al muddabbir (Maha mengatur), Al Gani (Maha kaya) Al Qawiy(Allah maha kuat) (Allah maha besar) 

B. Al Gaflah (Lalai)
         Allah telah mengisyaratkan bahaya dari  kelalaian dalam QS. Al a’raf : 179

 وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ(179)      
Sungguh akan dipenuhi isi neraka jahannam dari golongan jin dan manusia, mereka memiliki hati tapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) Mereka memiliki telinga namun tidak digunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah) mereka memiliki mata namun tidak digunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah) 

Minimal kita Lalai dalam tiga hal seperti dalam doa yang ianjurkan dibaca pada akhir sholat, setelah membaca doa tasyahud sebelum salam :

        
          Ya Allah bantulah kami untuk dapat   berdzikir, bersyukur dan memperbaiki
            ibadah

1.  Lalai berdzikir
a.        Berdzikir dengan hati maknanya senantiasa mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala. Dalam keadaan sendiri maupun banyak orang, bahwa Allah senantiasa mengawasinya, akan menolongnya jika menolong agama Allah dst.
b.        Berdzikir dengan lisan, senantiasa basah lidah kita menyebut asma Allah (subhanallah, alhamdulillah dst)
c.        Berdzikir dengan anggota tubuh kita, yaitu mengingat hukum-hukum atau aturan-aturan Allah. Setiap tindakan yang akan kita kerjakan harus dikembalikan kepada Allah, apakah Allah ridha dengan pekerjaan ini atau tidak, adakah perintahnya ataupun larangannya.

2.    Lalai bersyukur
Ø  Bersyukur dengan hati, yakni meyakini didalam hati kita bahwa semua nikmat yang kita dapat adalah pemberian Allah Azza wa Jalla.
Ø  Bersyukur dengan lisan dengan senantiasa memuji Allah yang telah memberikan ni’mat
Ø  Bersyukur dengan Anggota tubuh yaitu dengan menggunakan apa yang dikaruniakan Allah kepada kita sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
Ø     Lalai memperbaiki ibadah
Ø  Berupaya memperbaiki ibadah kita, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, tentunya harus dimulai dari upaya mengoreksi (muhasabah) ibadah kita sebagai contoh : mungkin kita telah melaksanakan sholat, namun masih bolong-bolong, atau kalau sudah tidak bolong-bolong kita masih sering menundah menundah-nundahnya (tidak diawal waktu) atau kita masih kerjakan sendiri (tidak berjama’ah di masjid) atau mungkin kita sudah mengerjakan semua itu namun kita tidak memperbaiki syarat dan rukunnya atau kita tidak khusyu’ dalam sholat kita. Ini semua memerluka mujahadah untuk memperbaikinya.

Penyebab kelalaian adalah belum terhunjamnya dalam lubuk hati kita akan keimanan baik itu, Iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat Allah, Iman kepada Kitab Allah, Iman kepada Rasul-rasul Allah, Iman kepada hari akhirat dan iman kepada Takdir Allah Azza wa Jalla. Untuk memahami tauhid dan iman tersebut tidak ada jalannya kecuali ada upaya yang sungguh-sungguh untuk menambah ilmu kita, Rasulullah Sallalahu ‘alaihi Wasallam bersabda :


Barang siapa yang ingin diberi kebaikan (dunia dan akhirat) maka mereka mesti fakih (paham) thdp agama ini. (HR.                 ).



Barang siapa yang yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan mudahkan jalannya menuju surga. (HR.                  ).

tidak, adakah perintahnya ataupun larangannya.

3.  Lalai bersyukur
Ø  Bersyukur dengan hati, yakni meyakini didalam hati kita bahwa semua nikmat yang kita dapat adalah pemberian Allah Azza wa Jalla.
Ø  Bersyukur dengan lisan dengan senantiasa memuji Allah yang telah memberikan ni’mat
Ø  Bersyukur dengan Anggota tubuh yaitu dengan menggunakan apa yang dikaruniakan Allah kepada kita sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
Ø     Lalai memperbaiki ibadah
Ø  Berupaya memperbaiki ibadah kita, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, tentunya harus dimulai dari upaya mengoreksi (muhasabah) ibadah kita sebagai contoh : mungkin kita telah melaksanakan sholat, namun masih bolong-bolong DSTaikinya.

PERALATAN DAN KELENGKAPAN GAMBAR TEKNIK

 

Ada beberapa peralatan didalam menggambar teknik dasar (gambar manual/tanpa komputer) yang harus diketahui berdasarkan fungsi dan cara penggunaannya. Walaupun pada saat sekarang sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi, serta tuntutan dunia industri, menggambar sudah menggunakan Program Autocad yang merupakan program aplikasi rancang bangun berbasis CAD (Computer Aided Desain) buatan autodesk incorporation. Tetapi untuk sampai ke aplikasi rancang bangun tersebut tentunya juga untuk gambar arsitektur, gambar sipil ataupun mesin diperlukan dasar-dasar gambar teknik yaitu menggambar secara manual. Sebagai dasar dan kaidah-kaidah penggambaran yang baik dan benar sesuai dengan standar ISO. Karena hasil dari gambar tersebebut jelas, mudah dibaca (dimengerti), serta dapat dilaksanakan. Karena gambar tersebut di bidang teknik merupakan salah satu bahasa atau alat komunikasi untuk di aplikasikan. Oleh karena itu di dalam menggambar dasar teknik perlu diketahui beberapa peralatan serta kelengkapan gambar teknik tersebut. beberapa peralatan gambar teknik antara lain sebagai berikut :

KERTAS GAMBAR
Berdasarkan jenis kertasnya, kertas gambar yang dapat kita gunakan untuk menggambar teknik adalah 

1) Kertas Padalarang
2) Kertas manila
3) Kertas Strimin
4) Kertas roti
5) Kertas Kalkir

Di dalam menggambar teknik untuk ukuran kertas  gambar  sudah ditentukan berdasarkan standar ISO, yang mana ukuran pokok kertas gambar adalah A0.

Ukuran A0 adalah 1 m2 dengan perbandingan 2 : 1 untuk panjang : lebar.
Ukuran A1 diperoleh dengan membagi dua ukuran panjang A0.
Ukuran A2 diperoleh dengan membagi dua ukuran panjang A1.
Demikian seterusnya.......
Ukuran kertas gambar dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.


Cara untuk menentukan ukuran kertas A0 A1 A2 A3 A4 di dalam gambar teknik dapat harus terlebih dahulu mengetahui ukuran kertas paling besar yang digunakan di dalam gambar teknik, yaitu ukuran kertas A0 yang ukuran pokoknya mempunyai luas 1 meter persegi (1 m2) atau 1 juta milimeter persegi (1.000.000 mm2). Untuk mendapatkan Ukuran kertas A0 tersebut secara benar berdasarkan standard internasional / ISO, maka digunakan rumus sebagai berikut :

Di bawah ini adalah berbagai macam jenis ukuran kertas menurut satuan inches dan satuan milimeters


MEJA GAMBAR

Meja gambar yang baik mempunyai bidang permukaan yang rata tidak melengkung. Meja tersebut dibuat dari kayu yang tidak terlalu keras misalnya kayu pinus. Sambungan papannya rapat, tidak berongga, bila permukaannya diraba, tidak terasa ada sambungan atau tonjolan. Meja gambar sebaiknya dibuat miring dengan bagian sebelah atas lebih tinggi supaya tidak melelahkan waktu menggambar. Meja gambar yang dapat diatur kemiringannya secara manual atau hidrolik. Manual pergerakan kemiringan dan naik turunnya dengan sistem mekanik, sedangkan meja gambar hidrolik kemiringan dan naik turunnya meja gambar menggunakan sistem hidrolik. Ukuran papan gambar didasarkan atas ukuran kertas gambar, sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Tetapi dapat juga disesuaikan dengan kebutuhan, umumnya ukuran papan gambar lebar 90 cm, panjang 100 cm, tebal 3 cm


PENSIL GAMBAR

Pensil untuk menggambar lain dengan pensil yang digunakan untuk menulis, baik kwalitetnya maupun kerasnya. Pensil gambar umumnya tidak disertai karet penghapus pada salah satu ujungnya. Selain itu biasanya kekerasannya dicantumkan pada salah satu ujung pensilnya. Standard kekerasan pensil dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
                                 
Berikut ini salah satu contoh jenis pensil gambar dengan kategori lunak 2B, digunakan untuk kelengkapan menggambar 
 

PENSIL MEKANIK    

Pensil mekanik banyak ragam dan jenisnya, antara batang dan isi pensil terpisah. Jika isi pensil habis dapat diisi ulang. Batang pensil tetap masih digunakan. Dalam menggambar teknik ada jenis pensil standar yang digunakan. Pensil mekanik tersebut salah satu merk standar yang digunakan adalah Staedtler, Rotring, Faber Castell. Pensil mekanik memiliki ukuran berdasarkan diameter mata pensil, misalnya 0,3 mm, 0,5 mm, dan 1,0 mm. Berikut ini salah satu contoh jenis pensil mekanik, digunakan untuk kelengkapan menggambar


PENGHAPUS

Penghapus yang dimaksud dalam peralatan gambar teknik disini adalah penghapus yang digunakan untuk kertas gambar. Jadi dapat digunakan 2 macam penghapus yaitu penghapus pensil dan penghapus tinta. Untuk penghapus pensil pada kertas gambar biasa ( putih ) umumnya hampir sama. Penghapus kertas gambar terdapat macam-macam  merk salahsatunya adalah Staedtler, Rotring, Faber Catell, demikian juga untuk penghapus tinta pada kertas kalkir.  Berikut ini salah satu contoh jenis penghapus gambar, yang digunakan untuk kelengkapan menggambar.
           


PENGGARIS SEGITIGA
Pada kelengkapan menggambar teknik adalah penggaris segitiga. Penggaris ini digunakan untuk menarik garis tegak, miring, atau pun sejajar. Ukurannya variatif dari yang kecil sampai yang besar. Bahan yang digunakan untuk penggaris segitiga adalah kebanyakan mika transparan karena ringan. Penggaris segitiga ini biasanya digunakan sepasang segitiga yaitu segitiga dengan sudut- sudut istimewa yaitu 45°–45° dan segitiga, dengan sudut 60°–30°.


RAPIDO 

Rapidograp atau rapido merupakan alat kelengkapan menggambar teknik biasanya satu set komplit dengan yang lainnya. Rapido banyak digunakan dalam mendesain gambar arsitektur bangunan maupun bangunan sipil. Rapido juga memiliki ketebalan tertentu untuk menarik garis dengan ketebalan yang dikehendaki. Sehingga untuk membuat gambar dengan lebih dari satu ketebalan garis, diperlukan beberapa rapido. Untuk membedakan ketebalan garis yang diinginkan, pada umumnya masing-masing rapido diberi tanda corak warna yang berbeda-beda pada leher atau tutupnya.Sehinggga dengan rapido yang digunakan ketebalan garis, tinggi huruf maupun angka dari sablon huruf dapat disesuaikan. Macam-macam merk rapido yang dijual di pasaran, antara lain : rotring, staedler, faber castell, primuss, dan lain-lain.

 
JANGKA
Jangka merupakan suatu alat kelengkapan menggambar teknik digunakan untuk membuat gambar lingkaran, ellips, ataupun busur lingkaran. Jangka memiliki bentuk dua kaki, yang satu berbentuk runcing (jarum) dan yang satunya lagi bentuknya dapat diisi dengan ujung pensil, pulpen, trek pen, dan sebagainya. Penggunaan jangka bisa di setel atau di atur apabila akan membuat gambar suatu  bentuk lingkaran dengan jari-jari besar, dan apabila kaki jangka tersebut kurang panjang, maka salah satu kakinya harus disambung dengan kaki sambungan atau ditambahkan suatu alat tambahan apabila mau menggunakan rapido. 
  
MAL DAN SABLON
Mal dan sablon ini meryupakan alat kelengkapan dalam menggambar teknik. Fungsi dari mal dan sablon ini untuk memudahkan dan mempercepat proses pengerjaan dalam membuat gambar, khususnya desain gambar-gambar arsitektur bangunan, sipil dan juga untuk menghasilkan bentuk gambar yang rapi, bersih dan menarik. Perbedaan anatara mal dan sablon antara lain yaitu
Mal terdiri dari beberapa jenis, yakni : mal lingkaran, mal ellips, mal kuping gajah, mal arsitek, dan lain-lain.
Sablon terdiri dari beberapa jenis, yakni : sablon huruf, sablon angka, sablon furniture, dan lain-lain.